Masih ingat Sosok Dimas Kanjeng Taat Pribadi? Ini sebenarnya

Menurut sejumlah pengikutnya, mereka berguru (nyantri) ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi semula bukan karena ingin memiliki ilmu menggandakan uang, tetapi hendak belajar memiliki ilmu gurunya yakni kemampuan menarik barang berharga (emas permata) dari dalam tanah. Untuk kegiatan gaib itu, Dimas Kanjeng minta kepada pengikutnya untuk mengumpulkan uang guna membeli minyak gaib.

Dari awalnya berburu benda-benda emas permata dengan memakai minyak gaib itulah kemudian beralih ke penggandaan uang yang lebih dikenal sebagai Bank Gaib. Hanya saja, banyak pengikut awal yang kemudian mundur karena beberapa hal. Di antaranya uang mahar yang digandakan tidak segera terealisasi dan terus diundur-undur. Belakangan para Sultan (pengepul pemberi mahar) mengetahui bahwa uang yang biasanya dipergunakan guru mereka yang kemudian disebut sebagai uang hasil penggandaan secara gaib, didapat dari uang mahar ‘santri’ lainnya.

Selain itu, ada Hidayah Ismail (kemudian disusul Abdul Ghani) yang mengancam Dimas Kanjeng agar segera ‘membayar’ uang mahar yang mereka setor dari ‘santri-santri’-nya karena terus-menerus ditagih yang bersangkutan. Karena terus-menerus diberi janji kosong dengan mengulur-ulur waktu ‘panen’ (pencairan uang hasil penggandaan) dan kemudian sering memergoki Dimas Kanjeng jarang Salat Jumatan berjamaah dan pengajian yang digelar justru bersifat ilmu klenik, menjadikan Hidayah Ismail memilih keluar. Ia mengaku sudah bersusah payah mengembalikan sebagian uang mahar santri-santri yang direkrutnya sekitar Rp 3,5 miliar dari puluhan miliar yang ia setorkan.

* Telah dibaca 102 kali, 1 kali hari ini.
Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *